Threesixty Skatepunk, dari Skaters ke PRL
Informasi, Threesixty Skatepunk berasal dari Panjang, Bandarlampung, digawangi empat “pemuda gagah”, demikian mereka juluki diri sendiri, para personilnya; vokalis/gitaris Febri Ramadhan, lead guitarist Fredy Dede, bassist Rahmat Rangkuti, drummer Daniel Kocu itu.
Kisah latar yang menarik dari band ini ialah, terbentuk bermula dari perkumpulan anak muda pehobi main skateboard, yang lantas kepincut ingin ikut meramaikan musik indie label di Tanah Air.
Threesixty sendiri, mudah ditebak, diambil dari nama salah satu trik skateboard, cabang olah raga aksi bermedia papan luncur yang bisa dikategorikan sebagai kegiatan rekreasi, bentuk seni, satu profesi, alat transportasi.
Diketahui, skateboard yang pertama kali ditemukan peselancar California, AS, Frank Nasworthy, tengah 1940–1950an, saat dia ingin cari alternatif lain main surfing saat air laut tak berombak, dan sejak itu skateboard dimainkan dengan papan pertama dibuat hampir mirip papan surfing, berukuran agak kecil, dan diberi ban roller skate; lantas usai pertama kali masuk Indonesia diperkenalkan oleh anak-anak Barat kuliah di Amerika dan pulang tinggal di Jakarta, tepatnya kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat medio 1976 silam.
Tak lama, Indonesia lantas mengenal kini dikenang sejumlah nama skaters legendaris: Ardhy Poly, Arya Subiakto, dan Didi Arifin; dua dasawarsa berlalu, terbentuklah Indonesian Skateboarding Association (ISA) tahun 1999, skateboard mulai plong naik daun, 2000-an.
Mahapuncaknya, skaters sedunia menggagas menjadikan 21 Juni sebagai Go Skateboarding Day, pada 2004, dimana skaters akan konvoi menggilas aspal kota dengan skateboard-nya lalu kumpul di skate park sepanjang hari itu, kini pun menjamuri banyak kota Indonesia.
Secara surprise, skateboard pun resmi sudah, menjadi cabang olah raga dipertandingkan di SEA Games 2018 Jakarta-Palembang, untuk pertama kali dalam pesta olah raga terbesar se-Asia Tenggara itu, di Jakabaring Sports Center Roller, Palembang Sumatera Selatan, 28 Agustus 2018 silam, dan masuk cabang Roller Sports (Skateboard dan Roller Skate), lalu ditampilkan di Olimpiade Tokyo 2020.
Makna tersendiri, Threesixty versi personil, “Kami ingin selalu berputar seperti lingkaran 360° yang tiada sisinya dan tiada hentinya,” tutur mereka kepada dcdc.id, dikutip, meski konon bergenre skatepunk nun mereka asyik aja kala kebanyakan orang bilang, Threesixty Skatepunk ini skatepunk “manja”, dari lirik-lirik lagunya rerata bercerita kegalauan cinta.
Seperti antara lain dilagukan, dari 18 lagu bebas unduh, karya band yang lumayan laris manggung termasuk di antaranya tur mini di Batam dan Tangerang, serta beberapa kota di Indonesia ini, berseliweran di jagat maya.
Dari album Long Way To Go (2013), ada lagu “Dewi”, “My Heart Going Break”, “Sampai Nanti”, “Takkan Bisa”, dan”Teman Inilah Kita”.
Dari album Mencoba Tak Terlihat (2017), lagu Berharap Mampu, Diam Bukan Berarti Kalah, Enyahlah Pagi, Hingga Semua Menghilang, Intro, Jawaban Di Balik Senyuman, Mencoba Tak Terlihat, Menghilang Dan Berarti, Nurani, serta Pagiku Yang Tertukar Oleh Malam.
Juga lagu Kita Tak Terganti dari singel album judul sama, Nadaku Terhenti dari singel album judul sama, dan lagu Sembunyi Bicara (2020).
Ada lagi lagu singel album Musafir, lalu ada 10 lagu repackaged beraransemen akustik yakni Berharap Mampu, Dewi, Hingga Semua Menghilang, Menghilang Dan Berarti, My Heart Going Break, Nurani, Sembunyi Bicara, Takkan Bisa, Teman Inilah Kita feat Keycko, dan Sampai Nanti, plus dua lagu baru: Serein, dan Terjemahkan Aku di album Threecoustic (2023), serta singel teranyar Legacy (2024).
Turut disponsori LOKET, band ini pun baru saja mengusaikan Threesixty Legacy Tour namanya, diorganisir Rockaroma, yakni di Hetero Space, Purwokerto (17 Mei), Beer Garden, Solo (18 Mei), dan Miwiti, Semarang (19 Mei) ketiganya di Jawa Tengah, lanjut di Tropical Cafe & Resto Karawang Jawa Barat (24 Mei), Essen Cafe, Tangerang Banten (25 Mei), dan Creative Culture Jakarta pada 26 Mei 2024 lewat.
“Dewi rebahkan semua letihmu. padamkan api kecilmu. sejenak lelap dalam mimpimu. hingga pagi menjemputmu. Dewi akan tiba esok hari. hitam rambutmu memutih. biar perlahan waktu buktikan. indah arti hidup ini,” kutipan refrain lagu Dewi, dan sejenak Lapangan PKOR Wayhalim Bandarlampung pada Rabu malam, jadi penyaksi kepiawaian anak muda ber-skateboard ria, diiringi performansi enerjik Threesixty Skatepunk.
Pekan Raya Lampung 2024, ternyata penuh kejutan. “Makasih Om. Taon depan undang lagi ya hahaha,” serombongan anak skaters, mengira pewarta adalah panitia, berterima kasih, mengaku puas konser Selasa malam. Diberi info, mereka lalu beramai-ramai follow akun Instagram PRL 2024, @pekanrayalpg.
Pada Kamis (30/5/2024) malam ini, hari ke-9, giliran biduanita molek asal Sidoarjo Jawa Timur, mahir nyanyi sejak 4 SD, lagu-lagu cover ia banyak disuka sukses pula rilis singel “PPKM (Pelan-pelan Kamu Menghilang)”, pas September 2021 pascapandemi: Lala Widy, bakal menggoyang panggung PRL 2024 di lokasi yang sama. Tiketnya, Rp20 ribu saja.
PRL 2024 diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Lampung dengan organiser even Grand Modern Indonesia, disponsori mitra avant garde manajemen tiket LOKET, Bank Indonesia, Coca-Cola Europacific Partners Indonesia, DE LUXE Nesia, erafone, Grab, Indomaret, Kopi Kapal Api, L.A. Bold, Lampung Culinary Community, Kirana, Mitra10, Modern ADV, PT. PLN (Persero), PTPN 1 Regional 7, Pupuk Sriwidjaja (Pusri), Sampoerna Retail Center (SRC), PT. Telkom Indonesia (Persero), Wismilak. (red/Muzzamil)
#PekanRayaLampung
#HarmoniDalamKolaborasi







