Jalan Tol Trans Sumatera, Megaproyek 10 Tahun Jokowi, Bakal Prabowo Lanjutkan?

Bandarlampung, KabarSejagat.com – Saat artikel ini disusun, Minggu, 6 Oktober 2024, genap dwipekan lagi berakhirnya masa jabatan periode kedua kepemimpinan partisipatif-teknokratik dua periode Presiden ke-7 RI, Presiden Joko Widodo (Jokowi), 20 Oktober mendatang.

Jokowi, dalam sistem ketatanegaraan NKRI sebagai Kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan, mengampu Kabinet Kerja 2014-2019 didampingi Wapres Jusuf Kalla, dilanjutkan Kabinet Indonesia Maju 2019-2024 didampingi Wapres KH Ma’ruf Amin.

Per 20 Oktober 2024 hingga 20 Oktober 2029 estafet kepemimpinan nasional Jokowi akan dilanjutkan Presiden terpilih, Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto, didampingi Wapres terpilih Gibran Rakabuming Raka sulung Jokowi.

Selama memerintah, Jokowi menggadang utama sekaligus mengeksekusi program pembangunan infrastruktur konektivitas berkeadilan berbasis gelora spirit Indonesia centris, salah satunya proyek mercusuar pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang 2.994 kilometer (Km) data mutakhir per 10 September 2024, menghubungkan Lampung hingga Nangroe Aceh Darussalam.

Eksekusi megaproyek “sukses hasil, meleset target” ini dilandasi dasar hukum Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 100/2014 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol di Sumatera, sebagaimana empat kali diubah.

Pertama, dengan Perpres Nomor 117/2015 selaku alas hak penugasan khusus BUMN Hutama Karya selaku pelaksana konstruksi. Kedua, dengan Perpres Nomor 109/2020. Ketiga, dengan Perpres Nomor 131/2022.

Keempat, dengan Perpres Nomor 42/2024 bertujuan untuk mempercepat pembangunan jalan tol di Sumatera, memberikan kepastian hukum, dan menjamin konektivitas jalan tol.

Asal tahu, di negara kepulauan apatah lagi terbesar di dunia pemilik 17.508 pulau, sistem jaringan jalan menjadi kebutuhan mendasar yang menghubungkan masyarakat dan perniagaan dengan pekerjaan, layanan publik, pasar, mengurangi biaya logistik, merangsang pertumbuhan industri di Indonesia.

Pemerintahan Jokowi menjawab kebutuhan ini, dengan menempatkan konektivitas tinggi sebagai salah satu prioritas utama. Perpres 100/2014 lantas kini dikenang jadi Perpres bersejarah, “beleid penghubung” Lampung hingga Aceh lewat 24 ruas jalan berbeda yang di awal panjang seluruh direncana 2.704 km kini 2.994 km akan beroperasi penuh 2024 ini.

Secara konstruksi misal, Hutama Karya juga mengembangkan inovasi guna menghasilkan jalan tol bermutu dan tahan gempa, dalam pembangunan JTTS. Sebelum membangun JTTS, Hutama Karya terlebih dulu melakukan perencanaan dengan memperhatikan ragam aspek agar jalan tol yang dibangun memiliki kualitas yang kokoh, terlebih Indonesia berada di antara tiga lempeng besar dunia yang aktif dimana Sumatera masuk dalam daerah yang berpotensi terkena gempabumi.

Salah satu teknologi yang diusung untuk pertahanan gempa ini, demikian disitat dari penjelasan Direktur Operasi III Hutama Karya Koentjoro, yaitu Lead Rubber Bearing (LRB) atau bantalan karet inti timbal yang banyak diterapkan di struktur jembatan sebab punya kemampuan redaman tinggi, memanfaatkan karet alam yang melimpah di Indonesia.

Dijelaskan, sebelum LRB diterapkan di tol, telah diuji coba verifikasi standar spesifikasi kondisi dinamik gempa terlebih dahulu untuk membuktikan performa karakteristiknya dengan menggunakan mesin uji terbesar di Asia Tenggara.

Fungsi LRB cukup krusial menjaga keamanan struktur saat terjadi gempa hingga ketahanan struktur jalan tol lebih terjamin saat hadapi risiko gempa. LRB telah diterapkan di beberapa ruas JTTS seperti Tol Binjai – Brandan, dan Tol Bangkinang – Koto Kampar.

Admin