Lampung Barat, KabarSejagat.com – Memasu ki hari ketiga bulan suci Ramadhan 1446 H, semangat masyarakat dalam menghadiri kajian subuh di berbagai masjid tetap bersemangat . Sejak hari pertama puasa, umat Islam cukup ramai mendatangi masjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan kajian keislaman yang diisi oleh para ustaz dan ulama setempat.
Di Masjid Baitus Sidqon Way Mengaku misalnya, puluhan jamaah tampak memadati saf jelang pelaksnaan Shalat Shubuh Berjemaah. Mereka tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga terlihat ada satu dua jemaah dari wilayah lain yang ingin mengikuti ceramah keagamaan. Salah satu jamaah, Ahmad (35), mengaku merasakan ketenangan tersendiri dalam menghadiri kajian subuh di bulan Ramadhan.
“Ramadhan adalah momen yang penuh berkah. Saya berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan menambah ilmu agama setelah salat subuh,” ujarnya.
Tema kajian yang diangkat pun beragam, mulai dari keutamaan ibadah di bulan Ramadhan, tafsir Al-Qur’an, hingga pembahasan fikih puasa. Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitus Sidqon Rudi Wijaya , mengungkapkan bahwa pihaknya sengaja menghadirkan tema-tema yang relevan agar jamaah semakin semangat dalam beribadah.
“Kami melihat antusiasme jamaah semakin meningkat setiap tahunnya. Semoga semangat ini terus bertahan hingga akhir Ramadhan,” kata Rudi Wijaya.
Pantauan media ini di hari ke 3 Ramadhan Kajian subuh masih membahas materi- materi dari Kitab Tanqih Al Qoul dan membahas pada Bab 37. Dengan judul Keutamaan Mengingat Kematian, Masih bersama Ustadz H. Pairozi, M.pd.I Imam Besar masjid tersebut yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung Barat.
” UJIAN berupa kematian adalah suatu yang pasti menimpa Manusia apapun profesinya dan dimanapun dia berada, ” ujar Ust Pairozi.
Datangnya Kematian ini tidak perlu di Takutkan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana persiapan manusia untuk menghadapi datangnya kematian itu. Karena pada Hakikatnya Kematian itu merupakan jembatan yang menghubungkan antara seorang kekasih (Hamba) kepada kekasihnya yaitu Allah SWT (Al Hadits)
Nabi Muhammad SAW Bersabda: Kematian ada 4 macam yaitu kematian para ulama’, kematian orang-orang kaya, kematian orang-orang fakir, dan kematian para pemimpin.
1. Kematian para ulama’ akan menimbulkan perpecahan di dalam agama, Berkurangnya Ilmu Agama dan tanda akan di angkatnya Ilmu Agama. Kehadiran para ulama dirasa tepat sebagai rujukan bagi umat Islam untuk mempelajari atau bertanya seputar persoalan kehidupan, terutama yang menyangkut persoalan agama.
“Dengan wafatnya para ulama, tentu semua umat merasa kehilangan mengalami kesedihan yang amat mendalam. Hanya orang munafik saja yang tidak bersedih atas wafatnya pewaris Nabi, ” jelasnya.
Dalam sebuah hadist, Nabi saw. menegaskan,
Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Ketika seorang alim meninggal maka menangislah ahli langit dan bumi selama tujuhpuluh hari. Barangsiapa tidak sedih atas meninggalnya orang alim maka dia adalah orang munafik, munafik, munafik.” Nabi mengatakannya tiga kali. Selanjutnya, dalam hadits lain juga dituliskan bahwa “Kematian seorang ulama itu lebih disenangi Iblis, daripada kematian tujuh puluh orang ahli ibadah”.
2. Kematian orang kaya adalah penyesalan (kesedihan mendalam), Karena harta kekayaan akan ada pertanggungjawabanya, dari mana harta itu di peroleh dan kemana harta itu di Tasyarufkan (digunakan).
3. Kematian orang-orang fakir adalah istirahat (ketenangan), dia bisa berhenti dari Susahnya mencari nafkah walau sekedar untuk Makan keseharian nya.
4. dan kematian para pemimpin akan menimbulkan fitnah (musibah)
Pada kesempatan itu Ust Pairozi mengatakan bahwa Sebagian orang ada yang menganggap bahwa jabatan itu musibah. Atau, paling minim setingkat dengan fitnah, dibandingkan dengan nikmat.
” Memang agak sulit diikuti dengan nalar, mengapa bisa jabatan itu diasosiasikan dengan musibah.
Nalar sederhana yang muncul kemudian adalah jabatan berpotensi korupsi, lalu terjerat hukum, dan dijatuhi hukuman itulah diantara Fitnah yang Timbul. Jadi, dengan nalar tersebut, bukan jabatan yang mengakibatkannya mendapatkan musibah, tapi karena korupsinya, ” ungkapnya.
Sementara Orang yang menganggap jabatan itu musibah lebih terkait dengan besarnya tanggung jawab yang melekat pada jabatan tersebut. Setiap jabatan butuh pertanggung jawaban. Semakin tinggi level kepemimpinannya semakin besar tanggung jawab yang melekat padanya.
” Pertanggung-jawaban atas jabatan tersebut bukan sekedar pada stake holder atau pada orang yang berada pada level jabatan di atasnya. Tapi, pertanggung jawaban dari jabatan itu juga akan dihadapi di akhirat nanti. Ini yang paling berat. Pertanggung jawaban atas Jabatan ini akan berlaku di dunia dan akhirat, ” pungkasnya.
Dengan antusiasme yang tinggi ini, diharapkan kajian subuh di masjid-masjid dapat terus menjadi sarana pembelajaran dan memperkuat keimanan umat Islam selama Ramadhan, ” harap Ali Akbar salah satu jemaah kajian subuh itu. (*)

