Lampung Barat, KabarSejagat.com – Rama dhan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah dan menambah ilmu agama. Salah satu bentuk kegiatan yang banyak diminati adalah kajian subuh, di mana para jamaah dapat mendalami ajaran Islam lebih dalam.
Masjid Baitus Sidqon, yang terletak di Way Mengaku, Lampung Barat, turut menyelenggarakan kajian subuh pada 1 Ramadhan 1446 H. Kajian kali ini dipimpin oleh Imam Besar Masjid Baitus Sidqon sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung Barat, Ust H. Pairozi. Dengan mengkaji Kitab Tanqih Al-Qoul, ia membahas salah satu tema penting dalam Islam, yaitu Keutamaan Menjenguk Orang Sakit.
Dalam pemaparannya, Ust Pairozi menjelaskan bahwa menjenguk orang sakit merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Lebih dari sekadar kunjungan, tindakan ini memiliki nilai ibadah serta manfaat besar bagi kedua belah pihak baik yang menjenguk maupun yang dijenguk.
“Dalam Islam, menjenguk orang sakit adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Ini merupakan bentuk kepedulian sosial yang dapat memperkuat silaturahmi, memberikan semangat kepada yang sakit, serta menjadi ladang pahala bagi yang melakukannya,” ujarnya.
Lebih lanjut, beliau mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:
“Barang siapa menjenguk orang sakit yang sholeh, maka keluar bersamanya tujuh puluh malaikat yang beristigfar untuknya. Mereka keluar dari rumah si sakit dan masuk ke rumah si penjenguk.”

Manfaat dan Tata Cara Menjenguk Orang Saki
Menurut Ust Pairozi, menjenguk orang sakit memiliki banyak manfaat, antara lain:
1.Mempererat tali silaturahmi antara keluarga, sahabat, dan sesama Muslim.
2.Memberikan dukungan moral dan semangat kepada yang sakit agar tetap optimis.
3.Meringankan beban psikologis pasien dengan menunjukkan perhatian dan kasih sayang.
4.Mengingatkan kita akan nikmat kesehatan yang Allah berikan.
Beliau juga menjelaskan tata cara menjenguk orang sakit sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW:
1.Meletakkan tangan di atas tangan atau wajah si sakit dan menanyakan keadaannya.
2.Berjabat tangan sebagai bentuk penghormatan.
3.Mendoakan kesembuhan dengan tulus dan penuh keyakinan.
4.Berbicara dengan lemah lembut dan memberikan kata-kata yang menenangkan.
5.Membawa oleh-oleh seperti buah-buahan atau makanan yang disukai pasien.
6.Menjaga kebersihan diri agar tidak membawa kuman atau penyakit.
7.Menjaga etika berbicara agar tidak menambah beban pikiran pasien.
8.Tidak berlama-lama agar pasien tetap bisa beristirahat dengan nyaman.
Ust Pairozi menegaskan bahwa menjenguk orang sakit bukan sekadar tradisi sosial, tetapi juga memiliki dampak psikologis yang positif. Banyak penelitian menunjukkan bahwa dukungan dari orang-orang terdekat dapat membantu mempercepat proses penyembuhan pasien.
“Keutamaan menjenguk orang sakit tidak hanya membawa pahala, tetapi juga memberikan kebahagiaan bagi pasien. Kehadiran kita, doa-doa, serta perhatian yang diberikan bisa menjadi penyemangat bagi mereka untuk sembuh,” pungkasnya.
Sebagai bentuk kepedulian, Ust Pairozi juga menyarankan agar jamaah yang menjenguk bisa membawa sesuatu yang bermanfaat bagi pasien. Buah-buahan segar seperti apel, jeruk, atau anggur menjadi pilihan terbaik karena kaya akan vitamin dan mudah dicerna.
Dengan kajian ini, diharapkan umat Islam semakin memahami pentingnya menjenguk orang sakit dan menjadikannya sebagai bagian dari kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. Semoga setiap langkah menuju kebaikan ini menjadi berkah di bulan suci Ramadhan.(*)







